> Terungkap! Penyebab Pompa Air DKI Tak Berfungsi Karena Solarnya Dijual?
Loading...

Terungkap! Penyebab Pompa Air DKI Tak Berfungsi Karena Solarnya Dijual?

Loading...
Loading...

Sebutan gubernur terbodoh di Jakarta sangat cocok untuk Anies Baswedan. Selama memimpin seringkali ia dikadali anak buahnya. Masih ingat saat ia kecolongan memberikan pengahargaan ke Diskotek Colloseum? Atau banyaknya anggaran janggal dinas pendidikan dan pariwisata hingga memunculkan lem aibon seharga 86 M, ballpoint 123 M dan lain sebagainya. Ini baru yang terungkap. Karena TGUPP dan KPK DKI bentukan Anies bukan membantunya malah ketahuan ikut-ikutan melakukan korupsi berjamaah?

Seperti yang terjadi saat banjir Jakarta melanda tanggal 1 januari 2020 kemarin. Agus Pambagio sebagai pakar kebijakan publik ikut menyoroti kinerja Anies yang enggan meneruskan kebijakan pendahulunya. Dalam acara primetimenews yang disiarkan metroTV, Agus juga mengungkap beberapa kejanggalan.

"Saya curiga ketika tanggal 1 pagi malam itu, pompa di Pluit, di mana itu di pinggir pantai itu tidak bekerja," kata Agus.

"Oleh karena itu presiden langsung meninjau secara mendadak pompa di Pluit?" Tanya presenter.

"Iya saya sudah bahas juga dengan beberapa temen wartawan. Pasti saya yakin pompa itu tidak bekerja. Penyakitnya tidak bekerja apa? Solarnya tidak ada. Anggarannya sudah ada tapi solarnya dijual." Jawab Agus.

Menanggapi cuplikan video yang kini viral di media sosial, salah seorang warganet mempertanyakan di mana Bambang sebagai ketua KPK DKI. Kenapa ada solar untuk pompa air dijual tapi diam saja.

Padahal fungsi dari pompa air di waduk Pluit sangat potensial seperti dilansir dari detik.com, Jokowi menyebutkan bahwa Waduk Pluit bisa menampung 3,29 juta meter kubik air dan dilengkapi tiga rumah pompa berkapasitas 49 meter kubik air per detik. Jokowi bersyukur rumah-rumah pompa yang disebutnya terakhir direhabilitasi pada 2014 masih berfungsi dengan baik.

Lain Jokowi, lain Anies, Gubernur yang lebih suka menghabiskan waktu di meja kerja dan pencitraan tanpa tahu pekerjaan di lapangan. Anies ini mirip SBY yang jarang terjun ke lapangan sehingga dengan mudah dikadali oleh Demokrat, makanya banyak sekali proyek mangkrak dijamannya. Hambalang yang paling terkenal karena anggarannya dikorupsi kader Demokrat sendiri.

SBY masih mending karena jurusnya prihatin dan merasa terdzolimi. Anies lebih parah lagi karena sudah ketahuan salah masih membangkang dan menyalahkan pemerintah pusat.

Seharusnya Anies malu pada Jokowi dan mundur dari jabatannya. Itu kalau dia masih merasa punya muka. Anies jelas-jelas tak bisa bekerja makanya dipecat dari Mendikbud. Anehnya malah dipromosikan sebagai Gubernur oleh mantan wakil presiden, Jusuf Kalla. Rakyat DKI juga harus meminta pertanggungjawaban dari JK yang menjerumuskan warga DKI dan partai pengusung Anies.

Bahkan PKS sendiri mulai gerah dan menyuruh Anies meneruskan normalisasi sungai. Tanpa dukungan parpol pengusungnya di DPRD, Anies lebih mudah diimpeach lewat hak angket. Salah satu pendukungnya Neno Warisma sendiri mulai balik badan saat banjir menenggelamkan rumahnya. Tinggal menunggu markas FPI dan HTI ikut tenggelam yang memungkinkan Anies semakin ditinggal.

Suara-suara dukungan dari TGUPP malah memperparah penjerumusan Anies. Salah seorang anggota TGUPP menyelahkan pemerintah pusat yang tak bisa mengontrol air dari Bogor. Ini sejatinya menyelamatkan muka mereka sendiri agar tidak ditanya kerja TGUPP selama ini ngapain aja.

Pohon-pohon usia tua ditebangi, anggaran penanggulangan banjir disunat 500 M tahun 2019, baik normalisasi maupun naturalisasi sebagai program andalannya tidak dikerjakan. TGUPP ke mana saja? Sampai solar untuk pompa air dijual, KPK DKI ke mana saja? Apakah diam-diam karena dapat jatah komisi penjualan juga? Terus dengan semua kebobrokan anak buah, Anies menyelahkan Jokowi dan Menteri PUPR. Memang sangat jelas bagaimana Anies menampakkan kebodohannya ke muka publik.

Sudah ada petisi copot Anies, beberapa kali trending twitter Anies gak becus kerja, Anies mundurlah dan sebagainya. Suara-suara tersebut bukan hanya dari pendukung Ahok tapi dari mayoritas warga yang merasa tak ada penanganan serius Ibukota di bawah Anies.

Perlakuan terhadap warganya juga sangat keji dan tak berperasaan. Masih ingat demo berujung kerusuhan? Anies tak hanya memberi pengobatan gratis tapi juga menjanjikan lapangan kerja. Sangat berbanding terbalik saat warganya kena banjir yang menimbulkan korban nyawa. Anies dengan tak tahu malu meminta warga lain memberikan donasi. Padahal Ganjar saja dapat mengirim bantuan dari Jawa Tengah yang notabene APBDnya jauh lebih kecil ketimbang Jakarta.

Anies juga ketahuan tak mau menetapkan status darurat pada warga Ibukota yang menyebabkan Kemensos belum bisa turun mengirim bantuan. Berbeda dengan Ridwan Kamil yang selang sehari banjir menimpa langsung menetapkan status tanggap darurat. Dengan segala kebodohan, kekejaman dan kedzaliman yang dilakukan Anies demi ambisi politiknya, sudah waktunya dia mundur dari kursi Gubernur.

LihatTutupKomentar
Loading...