> Setelah Reynhard Sinaga, Kini Muncul Hasan Ketua Ikatan Gay Tulungagung
Loading...

Setelah Reynhard Sinaga, Kini Muncul Hasan Ketua Ikatan Gay Tulungagung

Loading...
Loading...


Kasus Reynhard Sinaga belum lama berlalu.

Reynhard, warga Indonesia  yang sekolah di Inggris menarik perhatian dunia setelah mendapat julukan predator seks karena telah memerkosa 190 pria di Inggris.

Media di luar negeri menyebutnya sebagai pemerkosa berantai terbesar di Inggris.

Beberapa hari berlalu, kini muncul aksi serupa.

Namanya M Hasan alias Mami Hasan usia 41 tahun.

Aksinya mendapat kecaman di media sosial hari ini, Selasa (21/1/2020).

Dia adalah bujang lapuk yang tega mencabuli belasan anak remaja di Tulungagung.

Diungkap penyidik Polda Jatim, Hasan merupakan ketua Ikatan Gay Tulungagung atau disingkat (IGAY@TA).

Dia terlihat tertunduk lesu saat kasusnya diungkap ke publik oleh Ditreskrimum Polda Jatim, Senin (20/1/2020).

Catatan penyidik, terungkap bahwa Hasan telah menyetubuhi sedikitnya 11 anak di bawah umur yang masih berstatus pelajar.
Sebelas anak yang menjadi korbannya itu berjenis kelamin laki-laki dengan kisaran usia 17-18 tahun.

Aksi tak senonohnya itu dilakukan Hasan secara berjenjang selama kurun waktu setahun sejak 2019 awal.

Menurut Direktur Ditreskrimum Polda Jatim Kombes Pol R Pitra Andrias Ratulangie, modus pelaku dalam membujuk calon korbannya terbilang sederhana.

Bujang lapuk itu cukup memberi iming-iming uang sekitar Rp 150 - Rp 250 ribu agar meluluhkan hati, calon korbannya.

Saat korban terbuai dengan rayuan Hasan, pelaku lantas merudapaksa korbannya.

"Pelaku ini adalah dia membujuk anak-anak ini.

Kebetulan dia ini yang mengelola kedai kopi," katanya di Halaman Gedung Ditreskrimum Mapolda Jatim, Senin (20/1/2020).

Setelah dilakukan pemeriksaan, ungkap Andreas, pelaku merupakan ketua dari sebuah komunitas Gay di Kabupaten Tulungagung, yang mengatasnamakan sebagai Ikatan Gay Tulungagung (IGAY@TA).

Aksi tak senonohnya itu kerap dilakukan Hasan di dalam rumahnya, beralamat di Kelurahan Sembung, RT 02, RW 04, Kecamatan/Kabupaten Tulungagung.

Menurut Kanit III Asusila Subdit Renakta Ditreskrimum Polda Jatim, AKP Jenny Al Jauza, perbuatan 'mantap mantap' pelaku pada korban dilakukan di dua area di dalam rumah.

"Kadang ya dilakukan di dalam kamar, kadang ruang tamu.

Fotonya kan ada," ujar Jenny pada awakmedia.

Sementara itu, Hasan yang wajahnya ditutup Kerpus, penutup wajah, mengaku perbuatannya itu baru setahun belakangan.

"Cuma satu tahun ini, menuju 2019," tukasnya.

Ia tak menampik saat penyidik mengulas modus operandi yang dilakukannya terhadap para korban.

Tak jarang, para korban kerap mendatangi Hasan terlebih dulu dengan alasan membutuhkan uang.

Lalu Hasan memberikan sejumlah uang yang diminta korbannya, namun dengan imbalan, mereka harus mau 'melayani' Hasan tatkala nafsunya tak lagi dapat ditahan.

"Mereka datang ke saya butuh uang, terus main mau, kemudian masuk kamar terus dia telanjang," pungkas Hasan.

Punya warkop

Sebelumnya, polisi menemukan banyak kondom dan daftar tarif kencan di kamar H (30), pria Tuluangagung tersangka pencabulan anak di bawah umur.

Polisi juga mengungkap korban H mencapai 21 anak usia SMP dan SMA di Tulungagung.

Aksi H dilakukan diam-diam di rumahnya di Kelurahan Sembung, Tulungagung hingga membuat tetangganya tak curiga.

Berikut fakta-fakta yang terungkap di kasus ini:

1. Warga kaget ada garis polisi

Pada Rabu (15/1/2020) rumah H di Kelurahan Sembung digeledah personil Polda Jatim.

Warga sekitar tidak ada yang tahu kasus apa yang tengah dihadapi Hasan.

"Tahu-tahu pagi hari sudah dipasang garis polisi seperti itu. Gak tahu kasusnya apa," ucap seorang tukang becak, tetangga Hasan.

2. Reka adegan bersama 6 korbannya

Ketua RT setempat, Wajib (70) mengungkapkan, Hasan ditangkap personil Polda Jatim dalam kasus pencabulan sejenis.

Menurutnya, petugas datang sekitar pukul 23.30 WIB dan sempat menunjukkan surat tugas.

Wajib yang diminta menyaksikan proses penggeledahan juga ditunjukkan sejumlah korban.

"Saat itu tangan Hasan sudah dalam kondisi terikat (borgol) plastik warna putih," ucap Wajib.

Polisi juga sempat menunjukkan sekitar 5-6 korban.

Mereka semuanya masih remaja, seusia SMP dan SMA.

Kemudian Hasan dan para korban diminta memeragakan proses terjadinya pencabulan.

"Ada yang ngaku di kasur, ada yang ngaku di kursi, semua suruh memeragakan," sambung Wajib.

3. Temukan Kondom dan daftar tarif kencan

Masih menurut Wajib, polisi sempat menggeledah lemari di kamar milik Hasan.

Di dalamnya ditemukan sejumlah gambar laki-laki kekar hanya mengenakan celana dalam.

Selain itu ditemukan sejumlah kondom dan daftar tarif kencan.

4. Buka warung kopi

Hasan diketahui mempunyai usaha warung kopi di Pasar Burung, Desa Beji, Kecamatan Boyolangu.

Di rumahnya, ia juga membuka warung kopi meski tidak terlalu laku.

Selama ini warga tidak curiga kepada Hasan.

"Selama ini memang sering ada tamu, tapi kami kan mengira memang pengunjung warung kopi. Tidak menyangka kalau jadi tempat begituan," ujar Wajib.

Kasat Reskrim Polres Tulungagung, AKP Hendi Septiadi mengakui, ada penindakan dari Polda Jatim.

Namun pihaknya hanya sebatas backup saja.

5. Pedofil

Informasi yang dihimpun TribunJatim.com, H merupakan terduga pelaku kekerasan seksual pedofil yang menyasar anak dibawah umur.

Kabarnya, aksi bejat H telah memakan korban sedikitnya 21 orang anak yang masih duduk dibangku sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah akhir (SMA) di kawasan Tulungagung.

Namun, kemarin saat dilakukan olah tempak kejadian perkara (TKP), polisi hanya membawa sekitar enam orang anak yang menjadi korban.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko membenarkan, pihaknya Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Jatim mengamankan seorang pelaku terduga kekerasan seksual; Pedofil di kawasan Tulungagung.

"Benar, kemarin itu ya," katanya saat dikonfirmasi TribunJatim.com, Jumat (17/1/2020).

Hingga saat ini proses penyelidikan terhadap H dan pemeriksaan para saksi masih terus berlangsung.

Dalam waktu dekat, ungkap Trunoyudo, kasus tersebut akan dirilis oleh Polda Jatim.

"Sedang ditangani. Dan penyidikan masih berlangsung," pungkasnya.

LihatTutupKomentar
Loading...