> Semua Gubernur Setuju Benahi Banjir, Kecuali Anies
Loading...

Semua Gubernur Setuju Benahi Banjir, Kecuali Anies

Loading...
Loading...


Terlalu berlebihankah judul di atas? Tidak juga. Karena sesungguhnya semua gubernur Jakarta sebelumnya setuju dengan master plan, Rencana Induk Pengendalian Banjir dan Sistem Drainase Jakarta sebagai solusi pengendalian banjir yang kerap terjadi. Hal ini sudah direncanakan dulu sekali, sejak tahun 1973, sejak gubernur Ali Sadikin.

Bahkan ide ini diadobsi dari buah pemikiran sekelompok ahli dari Netherlands Engineering Consultants (Nedeco) Belanda yang datang ke Indonesia untuk membantu program Pengendalian Banjir Jakarta Raya (PBJR). Mereka kemudian menyusun rencana induk mengatasi masalah klasik yang dihadapi Jakarta itu, acuannya adalah rencana pengendalian banjir warisan Ir Van Breen. sumber

Sejak Ali Sadikin menetapkan, sejak itu pula rencana induk tersebut menjadi acuan solusi penanganan banjir Jakarta. Semua gubernur setelahnya setuju, walau terlepas dari berani tidaknya mereka mengeksekusi kebijakan tersebut, atau tidak. Atau, terlepas dari punya kecerdasankah mereka untuk mengerjakannya, atau tidak. Tapi yang pasti acuan itu tidak pernah diubah, sampai dengan era kepemimpinan Ahok.

Pada era Anies, semua menjadi bergeser. Yang awalnya disetujui konsep normalisasi, Anies malah mengenalkan ide baru, naturalisasi, yang kelak disadari bersama, ternyata salah kaprah. Yang awalnya disetujui untuk penerapan sistem drainase sodetan yang langsung mengirim air limpahan ke laut, Anies justru ingin air "dipaksa" masuk ke dalam tanah.

Tapi, bukan berarti Anies tidak setuju membenahi banjir kan? Cuma, mungkin dianya saja kurang cerdas memilih solusinya?

Tidak bisa begitu. Kalau Anies setuju akan ikut membenahi banjir Jakarta, tapi yang dilakukannya adalah berlainan dengan solusi yang sudah disepakati, itu sama artinya dia tidak setuju membenahi banjir Jakarta.

Analoginya, tidak mungkin Anda disebut setuju mencegah kebakaran, tapi yang Anda lakukan adalah menyalakan api unggun di dalam hutan kering. Tidak benar Anda disebut pergi ke Utara, tapi sebenarnya Anda justru melangkah ke Timur.

Kebijakan ini sebenarnya sudah purna, tinggal diteruskan dan dilanjutkan saja dengan cepat dan benar. Ahok sudah membuktikan, hampir saja dia selesai mengerjakan bagian akhir dari solusi itu, kalau saja dia tidak diganggu di ujung masa jabatannya. Apalagi kalau saat itu dia bisa melanjutkan ke periode kedua kepemimpinannya, Jakarta pasti sudah aman dari banjir sekarang ini. Paling tidak, apa yang dialami warga Jakarta di awal tahun 2020 kemaren, tidak perlu terjadi.

Tapi, seperti yang kita ketahui, masyarakat Jakarta akhirnya lebih memilih Anies, salah satu karena janji naturalisasi dan vertical drainase itu.

Masyarakat Jakarta menjadi lupa sejarah kotanya sendiri. Bagaimana pun, Jakarta sudah tidak mungkin diterapkan solusi naturalisasi, sebagaimana janji Anies saat kampanye, karena tidak ada lahan cukup untuk itu. Begitu juga, Jakarta tidak akan bermanfaat dibuatkan vertical drainase, karena tanah sudah jenuh dengan air.

Maka, sungguh tidak perlu ada ide-ide baru untuk menangani banjir Jakarta, cukup melanjutkan rencana induk yang sudah ada. Oleh karena itu, naturalisasi, vertical drainase, itu jelas cuma omong kosong saja dan tidak akan pernah mencapai sasarannya dengan kondisi Jakarta seperti sekarang ini.

Sudah jelas Jakarta senantiasa mengalami penurunan ketinggian permukaan tanahnya. Juga sudah jelas pula ruang terbuka Jakarta tidak seluas yang dibutuhkan untuk mengadobsi ide baru Anies itu. Jadi jelas pula, ide yang disampaikan Anies, sampai kapanpun tidak akan bisa jadi solusi.

Solusi jelas sudah ada, tinggal gubernur mana yang bisa bergerak cepat dan tegas untuk melaksanakannya. Jangan seperti yang terjadi, malah sebaliknya. Solusi diganti dengan yang baru, digembar-gemborkan iya, dikerjakan tidak. Bahkan ada beberapa perilaku ruang terbuka yang diterapkan sebaliknya. (Lihat foto utama artikel ini)

Lalu, solusinya sekarang bagaimana?

Sebaiknya lupakanlah sejenak masalah pro dan kontra kepada Anies. Itu tidak menjadi solusi sekarang ini. Anies bukan siapa-siapa, bahkan warga asli Jakarta juga bukan. Maka singkirkanlah niat Anda untuk pro atau kontra kepadanya.

Anies tidak akan menjadi kehilangan kotanya bila Jakarta akhirnya benar-benar tenggelam. Dia bisa kembali ke kampung halamannya. Tapi bagaimana dengan warga asli Jakarta sendiri?

Orang-orang Jakarta harus kompak, desak Anies untuk segera melanjutkan master plan solusi banjir Jakarta sesegera mungkin. Tidak ada cara lain selain itu. Kecuali warga Jakarta memang menunggu Jakarta berubah menjadi kota air?

LihatTutupKomentar
Loading...