> Sejumlah Wilayah DKI Kembali Banjir, Mana Nih Yang Ngomong Suruh Tangkap Air Hujan?
Loading...

Sejumlah Wilayah DKI Kembali Banjir, Mana Nih Yang Ngomong Suruh Tangkap Air Hujan?

Loading...
Loading...

Jakarta kembali dilanda banjir karena hujan besar yang mengguyur pada Jumat malam hingga Sabtu pagi. Sejumlah titik di Ibu Kota dilanda banjir.

Berdasarkan pantauan daru akun Twitter TMC Polda Metro Jaya, @TMCPoldaMetro, banjir antara lain terlihat di Jalan Sutomo, Cawang, Jakarta Timur. Selain itu, titik banjir juga terlihat di Jalan Kemandoran, Jakarta Barat dan kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Jalan yang digenangi air antara lain terdapat di depan Universitas Atma Jaya, kawasan Semanggi, Jakarta Pusat. Selain itu, genangan juga terlihat di Jalan Gatot Subroto dekat lampu merah Kuningan arah Semanggi, Jakarta Selatan.

Hujan deras ini sudah diperkirakan beberapa hari lalu sesuai prakiraan cuaca. Dan ternyata, masalah banjir masih belum hilang, malah kembali lagi.

Penulis jadi ingat, ada satu anggota TGUPP yang dengan pedenya meminta warga DKI Jakarta menangkap air hujan untuk mencegah banjir di Jakarta, karena tindakan menangkap air hujan itu bagian dari konsep naturalisasi sungai yang diusung Anies. Dia menjelaskan warga seharusnya menyediakan lahan resapan di rumah masing-masing untuk menahan air. Air hujan harus ditahan di rumah mereka hingga terserap ke dalam tanah.

"Itulah yang dibilang Gubernur Anies naturalisasi: tangkap, gunakan, resapkan, sisanya baru buang. Tangkap hujan, gunakan air hujan, resapkan air hujan, sisanya baru buang. Itu namanya naturalisasi, itu," katanya.

Ngomong sih enak. Gimana kalau rumah warga tidak memiliki resapan? Atau tidak bisa membuat resapan karena berbagai faktor yang tidak mendukung? Lagipula anggota satu ini terkesan ingin membela gubernur dengan menyalahkan warga yang tidak mau berinisiatif membuat resapan sendiri.

Halo, pak. Bukankah itu juga butuh duit? Kenapa Pemprov tidak mengerjakannya mengingat anggaran sangat besar, lagipula katanya mau buat jutaan drainase vertikal. Mana buktinya?

Kenapa penulis suruh nih orang yang minta air hujan ditangkap? Karena dia yang memperkenalkan jurus tangkap air ini. Harusnya dia buktikan dulu, bagaimana membuktikan banjir teratasi dengan menangkap air. Memangnya air itu kriminal yang harus ditangkap, diadili lalu dipenjarakan? Atau air itu kayak ikan yang bisa ditangkap dengan jala atau bom ikan?

Kalau ini orang memang hebat, dua tahun berlalu, harusnya sudah bisa memperlihatkan hasil kerjanya. Ini malah suruh warga yang lakukan. Ini sama saja bohong, tak mau kerja tapi suruh warga ikut kerja. Dua tahun berlalu tanpa ada hasil, dia mau pakai teori dan koar-koar bagaimana pun, tetap tidak akan ada orang waras yang mau percaya. Teori sih gampang, air ditangkap lah, disekap lah, dikurung lah, diinterogasi lah, disiksa lah, dipakai lah, sisanya dibuang ke tanah lah. Prakteknya? Katanya klaim udah berhasil diterapkan di rumahnya sendiri, kenapa tidak diterapkan secara massal? Terlalu banyak pertanyaan yang menimbulkan keraguan sehingga kita wajar mempertanyakan naturalisasi yang maha heboh sejak awal itu.

Kita ingin tantang orang ini, untuk membuktikan kepada kita bahwa dia bisa menangkap air hujan seperti yang dia katakan beberapa waktu lalu.

Akui saja kalau gubernur sudah salah besar dalam bertindak. Sibuk jual narasi naturalisasi sehingga 2 tahun lebih terbuang sia-sia. Adalah fakta kalau banjir kali ini adalah salah satu yang terburuk. Ditambah lagi gubernurnya punya kualitas buruk, bisa dibayangkan berapa banyak kerugian yang ditimbulkan akibat banjir.

Hanya karena terlalu bandel tak mau kerja sama dalam menangani banjir bersama dengan pemerintah pusat, yang rugi adalah warga sendiri. Kalau bandel, ngotot tapi kerja cepat dan bisa buktikan, kita masih bisa toleransi dan maklum. Ini bandel, keras kepala, merasa paling benar, tapi kerja nol.

Wajar dong kalau warga marah. Wajar kalau sebagian warga memilih menggugat gubernur karena merasa dirugikan. Lihat saja Mal Taman Anggrek yang tutup. Tutup sehari saja kerugiannya berapa? Itu baru satu. Berapa banyak bisnis dan toko yang tutup, dan hitung sendiri deh kerugiannya berapa.

Semua ini terjadi karena ego seseorang yang terlalu tinggi, gengsi melanjutkan apa yang sudah dilakukan gubernur terdahulu, memilih kerja sendiri tapi ternyata tidak sanggup lakukan. Ini namanya keterlaluan.

LihatTutupKomentar
Loading...