> Petisi Copot Anies Tak Efektif, Lebih Baik Biarkan Dia Redup Pelan-Pelan Lalu Hilang
Loading...

Petisi Copot Anies Tak Efektif, Lebih Baik Biarkan Dia Redup Pelan-Pelan Lalu Hilang

Loading...
Loading...

Parahnya banjir yang melanda Jakarta, serta banyaknya kerugian dan korban jiwa yang disebabkan banjir, membuat banyak pihak menuding gubernur yang tidak cepat tanggap terhadap masalah ini. Konsep yang dia tawarkan berbanding terbalik dan parahnya hingga sekarang progress-nya tidak kelihatan.

Hanya tinggal menunggu waktu di mana aspirasi masyarakat mulai terlihat. Salah satunya adalah petisi untuk mencopot Anies dari jabatannya. Hingga artikel ini ditulis, petisi online pencopotan Anies dari jabatan Gubernur telah ditandatangani lebih dari 210 ribu orang. Petisi ini ditujukan kepada Presiden Jokowi dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian.

Dalam petisi tersebut, Anies Baswedan dianggap gagal dalam pengambilan berbagai macam arah kebijakan dan keputusan. Misalnya, membengkaknya APBD DKI Jakarta 2018, gaji TGUPP yang tembus 70-an orang dengan biaya gaji puluhan juta rupiah per kepala per orang, banjir yang kembali terjadi, PKL yang merajalela menguasai trotoar, bongkar pasang jalur sepeda dan trotoar, banyaknya anggaran aneh bernilai miliaran di APBD 2020 dan terakhir karena ketidakbecusannya, banjir besar akhirnya melanda di hampir seluruh wilayah DKI Jakarta pada 1 Januari 2020 yang menyebabkan kerugian material dan korban meninggal.

Petisi tersebut meminta kepada Presiden Joko Widodo dan Menteri Dalam Negeri agar memanggil dan mencopot Anies dari jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Sebenarnya petisi ini hanya efek dari aspirasi masyarakat yang menyuarakan keluhannya terhadap kinerja Anies. Tapi secara politik atau hukum, petisi ini tidak akan berpengaruh apa-apa terhadap posisi Anies. Intinya, mau ditandatangani berapa banyak orang pun, kalau pemerintah tidak bersedia, ya Anies akan aman-aman saja. Lagi pula, kalau tidak salah, Anies tidak bisa dicopot seenaknya seperti saat jadi menteri.

Dan menurut penulis, pencopotan Anies akan menjadi bumerang yang berbahaya buat pemerintah. Tidak percaya?

Pertama, Anies sudah merangkul kelompok penjual agama yang kerjanya tukang demo itu. Alasannya, bukan karena merangkul semua orang seperti konsep keberpihakan yang dia katakan. Lebih mungkin kalau kita sebut Anies mengikat kelompok ini untuk kepentingan dukungan politik di masa depan. Bagi yang logikanya waras, banyak yang tidak mau lagi melirik Anies setelah 2 tahun yang sangat mengecewakan ini.

Kalau Anies dicopot gara-gara ini, dia akan mengambil peran sebagai korban yang dizalimi. Belum lagi kita lihat manuver pendukungnya yang juga salesman agresif. Anies akan mendapatkan simpati dari mereka dan di sisi lain pemerintah akan dikritik habis-habisan dengan alasan merusak demokrasi. Anies yang dipilih rakyat (jangan tanya penulis rakyat yang mana), dicopot seenak jidat. Dan ini bisa menjadi bumerang. Anies yang pintar memanfaatkan sentimen, akan mendapatkan angin segar untuk melejitkan namanya di panggung politik.

Lagipula, tak usahlah main-main copot segala. Karena tahun 2022, Anies juga bakal tamat kok. Lihat saja nanti.

Yang paling tepat saat ini adalah jelaskan kepada publik kenapa Anies ini adalah gubernur paling tidak becus. Bila perlu silakan Googling dengan kata kunci 'Gubernur terbodoh', lihat hasilnya dan jangan tertawa.

Cara paling ampuh untuk menampar Anies biar sadar adalah membiarkan dirinya redup perlahan hingga padam. Hanya masyarakat luas yang bisa memberikan penilaian akan seperti apa gubernur seiman hasil pilihan umat ini. Dan ketika masyarakat sudah muak dan apalagi muntah, the end bagi Anies akan segera tiba. Tidak percaya? Lihat saja satu orang yang berkeliling untuk mencalonkan diri sebagai capres, digadang-gadang sebagai capres kuat, tapi ternyata tidak dilirik, tidak dicalonkan sama sekali, dan sekarang popularitasnya pun sudah menurun dan tidak ada yang bertanya bagaimana kondisinya sekarang. Tak ada yang berminat. Titik. Selesai.

Kalau Anies ingin menjual keangkuhannya, silakan. Kita akan terus beberkan ketidakbecusannya. Dia jual, kita beli. Kita akan dengan senang hati mempromosikan ketidakbecusannya kepada publik biar mata mereka semua terang benderang. Sampai pada titik di mana, publik sudah muak, tidak peduli lagi, masa bodo dan Anies otomatis bakal redup dengan sendirinya. Bahkan tidak akan dilirik lagi. Nasibnya, bakal jadi debu di dunia politik, tak terlihat orang lain.

LihatTutupKomentar
Loading...