> Memble Meong Prabowo Sikapi Natuna Injak Harga Diri Bangsa
Loading...

Memble Meong Prabowo Sikapi Natuna Injak Harga Diri Bangsa

Loading...
Loading...

hahah…enaknya ngebacot, ringan tanpa beban. Tinggal nganga dan bacotlah senyaringnya. Jangan lupa lengkapi dengan bahasa tubuh, entah itu senyam senyum manis, atau dengan gaya gahar alias garang. Terserah pilih sendiri, tergantung kondisi dan momennya itu untuk apa. Istilahnya seandainya di pesta jangan saltum alias salah kostum. Sebagai inspirasi mungkin bisa mencontek percaya diri Prabowo Subianto yang pernah mengklaim dirinya lebih TNI dari TNI! Grrr…ngeri coy gaharnya!

Bayangin deh, lebih TNI dari TNI itu bagaimana yah? Seumpama ayam geprek mungkin level pedasnya cabe 5. Wkwkw…. Soalnya, TNI saja menurut penulis sudah bikin Indonesia kagum dan bangga. Kebayang dong kalau ini TNI pangkat dua. Wuiih…pasti horor banget gagah dan kesatrianya menjaga negeri ini dan rakyat Indonesia pastinya.

Kuciwa karena kenyataanya nggak seperti itu. Justru disaat menghadapi situasi keamanan di Natuna, Kepulauan Riau, Prabowo Subianto Menteri Pertahanan (Menhan) mendadak lembek, melempem, memble meong! Nggak berasa sedikitpun level kepedasannya. Malah sebaliknya menyatakan bakal bersikap 'cool' terkait China yang melanggar Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia di Laut Natuna. Wadow…cool yang bagaimana pak? Cool gemeteran karena kedinginan atau cool karena jiper ketakutan? Kok yah, jadi so sweet begitu sih? Ini sih bukan cool, tetapi imut pak!

Puji Tuhan, Indonesia dipimpin Jokowi. Nggak pernah ngaku lebih dari segalanya, tetapi terbukti mencintai negeri ini harga mati. Gamblang mengatakan tidak ada kompromi apalagi cool untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia, termasuk perairan Natuna.

"Tak ada kompromi dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia," kata Jokowi melalui Fadjroel yang disampaikan kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (4/1). Dikutip dari: cnnindonesia.com

Tanpa melupakan diplomasi damai tetapi jangan sampai kita membiarkan negara manapun menginjak harga diri bangsa, termasuk klaim China yang merasa berhak atas Natuna. Tetapi yang pasti Indonesia memiliki kekuatan hukum lewat pengadilan arbitrase International di Den Haag Belanda pada tanggal 12 Juli 2016 yang memutuskan tidak mengakui klaim garis sembilan titik yang dibuat oleh China dengan alasan tidak ada bukti bahwa China sudah lama berkuasa mengelola Sumber Daya Alam di kepulauan tersebut.

Ngototnya China teguh berpegang pada garis sembilan titik mengenyampingkan keputusan hukum international. Inilah alasan China ngotot memasuki wilayah perairan Natuna meskipun mendapat teguran dari pemerintah Indonesia. Pertanyaannya, apakah kita berdiam diri dan bertoleransi dengan ramah tamahnya? Wah…repot kalau semua urusan dibawa ke ranah toleransi. Jangan sampai urusan harga diri bangsa pun kita bertoleransi dan mau saja berkompromi boleh diinjak.

Kebangetan konyolnya bangsa ini ketika membiarkan sebanyak 30 kapal ikan asing masuk wilayah kedaulatan NKRI dikawal 3 kapal coast guard China lalu diam dan duduk manis saja. Nggak sekalian dipandu jadi tour guide saja. Gokil jadi kebalik nelayan Natuna anak bangsa negeri ini yang takut melaut di perairan yang notabene milik Indonesia. Weleh..weleh…

Masuk anginnya sikap Prabowo sebagai Menhan nggak ada nyali sedikitpun. Konyol justru mengajak untuk menyikapi ini dengan santai atas dasar China merupakan salah satu sahabat Indonesia. Wkwk….maaf yah, jadi ingin nyenggol cerita persahabatan Mai dan Mulan yang berakhir dengan pindah tangannya Ahmad Dhani bro! Tuh, bukti nyata kalau persahabatan juga mesti hati-hati! Hahahah…

Pastinya Natuna bukan Dhani, karena Natuna jauh lebih berharga. Natuna itu menyangkut harga diri bangsa Indonesia! Ironis menolak lupa sesumbar lebih TNI dari TNI dengan kenyataannya sekarang. Seharusnya sebagai Menhan Prabowo menunjukkan sikap tegas, dan bisa membedakan mana bersikap sebagai sahabat dan mana menunjukkan harga diri! Apa karena sahabat, lalu kita nggak punya harga diri? Kita jual harga diri kita demi label sehabat? Cuih banget kalau begitu!

Seperti dikatakan Retno Lestari Priansari Marsudi Menteri Luar Negeri (Menlu) ada 4 sikap yang diambil pemerintah RI terkait pelanggaran yang dilakukan China di Natuna, yaitu:

1. Kapal ikan China telah melakukan pelanggaran di wilayah zona ekonomi eksklusif (ZEE) NKRI.

2. Republik Indonesia menegaskan ZEE tersebut ditetapkan pada Konvensi Peserikatan Bangsa-       Bangsa Tentang Hukum Laut pada tahun 1982 (The United Nations Convention on the Law of the     Sea atau UNCLOS).

3.China adalah anggota UNCLOS 1982 sehingga China harus menghormati hukum tersebut.

4. Republik Indonesia tidak akan mengakui klaim 9 Garis Putus-putus atau Nine-Dash Line sebagai batas teritorial laut China karena tidak memiliki dasar hukum internasional.

Menitip pesan kepada para petinggi negeri ini. Ingat negeri ini diperjuangkan dan dititipkan oleh para pendahulu kita bukan dengan modal bacot, tapi dengan nyawa! Jadi tidak ada alasan, istilahnya atau pembenaran apapun, kecuali perairan Natuna adalah harga mati bagi NKRI yang harus dipertahankan apapun taruhannya.

Singkatnya, lebih baik membuang satu orang memble, ketimbang kehilangan perairan Natuna yang sekaligus jadi pembiaran harga diri bangsa jadi keset kaki bangsa lain!

LihatTutupKomentar
Loading...