> Lemahnya Prabowo Dihadapan China. Natuna Direbut Dia Diam Saja! Ganti Prabowo Segera!
Loading...

Lemahnya Prabowo Dihadapan China. Natuna Direbut Dia Diam Saja! Ganti Prabowo Segera!

Loading...
Loading...

Berbeda antara Jokowi dengan Prabowo, dan beruntung kita dipimpin Jokowi bukan Prabowo. Walau Menhan sekarang Prabowo, satu fakta terkuak karenanya, kita jadi tau bahwa Prabowo yang jadi pembantunya Presiden, bukan seorang Presiden, dapat ditekan dan tak berani ekskusi secara garang.

Lihatlah sekarang, Natuna diserang, Prabowo diam. Mari kita ulas penjelasannya..
Lihatlah Prabowo sekarang. sejak masuknya Kader Gerindra dalam poros kabinet Indonesia Maju, kita dipertontonkan dengan hal yang tak sepantasnya. Berawal dari kasus ekspor Baby Lobster ke Vietnam yang bakal dibuka. Ekspor itu diciptakan atas inisiatif Edy selaku Menteri KKP. Karena diending, Jokowi meminta Edy untuk merevisi kebijakannya.

Edy yang tak mau diresuffle itu tentu harus nurut dengan Presiden. Tapi berita mengenai Edy gampang sekali membuka keran ekspor ini sudah terdengar diseluruh Asia. Terutama Asia tenggara.

Karena Kabinet kerja Jokowi masih baru, terlebih masuknya poros oposisi ke kabinet. Beragam kalkulasi telah dihitung para negara tetangga asing itu. Bahwasanya Indonesia saat ini manajemennya masih kacau, bisa diporak-porandakan, atau diancam, bahkan ditekan.

Berawal dari kasus Baby Lobster, masih seputar air laut, masalah kini datang dari negara tetangga yaitu China. Perairan laut Natuna diklaim oleh mereka. Berita ini sudah menggema sejak beberapa hari lalu dan hari ini mencapai pada puncaknya.

Puncaknya adalah. Prabowo diam seribu bahasa, sedangkan China terlihat seperti raksasa yang berani menantang kita.

Kemenlu sudah protes sesuai kapasitasnya kepada China. Diplomasi memang seharusnya jadi urusannya Kemenlu. Disatu sisi, harusnya ditempat lain yakni Menhan, seharusnya dia juga punya aksi.

Tapi hingga artikel ini diterbitkan, Prabowo tak kunjung bereaksi. Yang Prabowo sampaikan ke publik tercatat malam ini hanya sebatas "Ingin Damai soal Natuna, Prabowo: China Negara Sahabat" https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4845830/ingin-damai-soal-natuna-prabowo-china-negara-sahabat

Dan di isi beritapun, Prabowo hanya sebatas menunggu hasil dari diplomasi Kemenlu RI terhadap China, yang mana diplomasi itu menjadi konflik saat ini karena China bersikukuh keras kalau daerah kawasan itu adalah miliknya.

"Saya ingin menegaskan bahwa posisi dan dalil-dalil China mematuhi hukum internasional, termasuk UNCLOS. Jadi apakah pihak Indonesia menerima atau tidak, itu tak akan mengubah fakta objektif bahwa China punya hak dan kepentingan di perairan terkait (relevant waters). Yang disebut sebagai keputusan arbitrase Laut China Selatan itu ilegal dan tidak berkekuatan hukum, dan kami telah lama menjelaskan bahwa China tidak menerima atau mengakui itu," tutur Geng."

Kalimat yang saya cetak tebal diatas perlu digaris bawahi. Bahwa China sejak kabinet baru dibentuk, Menteri KKP bukan Susi, Menhannya Prabowo dari oposisi, ditambah faktor manajemen Indonesia yang belum stabil. Langsung berani membuat pernyataan, mereka tidak mengakui keputusan Konvensi PBB UNCLOS. Pada 2016, pengadilan internasional tentang Laut China Selatan

Padahal sebelumnya, China takut total. Memasuki perairan Indonesia saja mereka ciut. Lantas kenapa mereka berani sekarang?

Perbedaannya antara Prabowo dengan Jokowi itu bagaikan langit dan bumi Prabowo lebih memilih pasif dengan menunggu. Sedangkan Jokowi langsung mengajak perang dengan datang ke Natuna.

Walau ada berita Laut Natuna Diklaim China, TNI Siaga Tempur https://news.detik.com/berita/d-4845771/laut-natuna-diklaim-china-tni-siaga-tempur?tag_from=news_mostpop

Tapi silahkan dibuktikan sendiri bahwa yang bergerak itu murni dari TNI. Atas keputusan TNI pribadi dan bukan arahan Menhan. Prabowo seharusnya dapat panggung besar saat ini kalau berani meniru Jokowi, tapi tidak dilakukannya. Mengapa? Berarti ada yang tidak benar dengan keberanian China terhadap RI saat ini.

Pun perbedaan yang amat signifikan terlihat. Dulu sebelum Prabowo masuk. Kapal Angkatan Laut Indonesia langsung menembak kapal nelayan China sesuai dengan hukum internasional, yang mana tak lama Jokowi langsung datang ke Natuna dan melakukan rapat terbatas, kemudian beliau langsung on board di KRI Imam Bonjol-383

Presiden membawa jajaran elit kabinetnya, seakan memberi pesan bahwa Indonesia sangat serius dengan persoalan kapal ikan China yang mencoba mencuri ikan di perairan NKRI ini. Dalam pesannya di buku tamu KRI Imam Bonjol presiden menuliskan : Jaga dan Pertahankan NKRI. Pesan ini sangat jelas dan tidak perlu penafsiran yang rumit. Perairan Natuna adalah harga mati bagi NKRI, untuk itu harus dijaga dan dipertahankan.

Kedaulatan Indonesia kini jadi mitos, Prabowo tak berkutik, pun dengan Menteri KKP yang selaras dengannya.

Sedih tapi begitulah kura-kura

LihatTutupKomentar
Loading...