> Lecehkan Bangsa Sendiri, Fadli Zon Sebut Senjata Andalan Kita Keris dan Bambu Runcing
Loading...

Lecehkan Bangsa Sendiri, Fadli Zon Sebut Senjata Andalan Kita Keris dan Bambu Runcing

Loading...
Loading...

Fadli Zon sangat yakin jika saat ini kita berperang melawan China, barangkali yang dimaksukannya adalah dalam rangka menghadapi konflik Laut Natuna, maka kita akan kalah. Keyakinan Fadli Zon ini sekaligus menunjukkan rasa pesimisme yang akut dari seorang politisi oportunis. Dan secara sarkastik, Fadli pun tak lupa menyebutkan senjata kita hanya keris dan bambu runcing.

Pertimbangan Fadli yang hanya berdasarkan hitungan sempit, semisal seberapa besar kekuatan militer kita, atau persenjataan kita yang hanya mengandalkan keris dan bambu runcing, menunjukkan betapa kerdilnya Fadli Zon menilai kekuatan bangsa nya sendiri.

Dengan cara pandang berbeda, kita menilai Fadli Zon secara tak sadar telah merendahkan martabat bangsa kita, yang nota bene adalah bangsa Fadli Zon sendiri. Wajarkah seorang legislator selevel dia, demi mengangkat citra dirinya, seolah-olah berhasil memojokkan negaranya, hingga tega-teganya menilai kekuatan pertahanan kita serendah itu?

Entah apa yang menjadi fokus perhatian Fadli Zon saat ini, karena semua tahu bahwa majikannya di Gerindra justru berada di jajaran pembantu Presiden yang bertanggungjawab terhadap pertahanan negara. Namun justru dari sisi itulah Fadli Zon menyerang, seolah-oleh dia ingin dilihat berbeda oleh para pendukungnya.

Kita cukup paham bahwa konstituen Fadli Zon tak sepenuhnya mendukung Prabowo masuk di jajaran pemerintahan. Barangkali sikap Fadli itu banyak didasarkan oleh situasi politik di internal partainya sendiri, dan tipikal Fadli Zon kita cermati sebagai tak mudah mengubah paradigma lama sebagai oposisi, ketika faktanya dua petinggi partainya telah bermetamorfosa menjadi pendukung Jokowi.

Lihatlah betapa pernyataan Fadli Zon yang merendahkan negaranya itu telah memancing kekecewaan rekan se-komisinya di DPR. Meuthia Hafidh balik mengkritisi pernyataan politisi Gerindra itu dengan mengatakan, tak perlu lagi ada pernyataan seperti itu dari seorang pejabat publik.

Jika hitung-hitungan Fadli Zon yang digunakan, menurut Meutia kita tak akan pernah mengalami kemerdekaan dari penjajahan Belanda. Karena kekuatan kita bukan hanya bertumpu dari kelengkapan persenjataan. Bukankah sejarah telah membuktikan, bahwa kekuatan senjata tak banyak berbicara, ketika seluruh rakyat memberi perlawanan melalui strategi jitu yang diterapkan para tentara pejuang kita.

Maka selamat “mati kutu” kepada Fadli Zon, yang lagi-lagi sedang menunjukkan kekerdilannya dalam melihat situasi politik nasional, dan semkin kita pahami tak secuil pun pemahaman seorang Fadli Zon patut dijadikan referensi.

Banyak hal yang telah dilewatkan oleh Fadli Zon dalam analisisnya yang cenderung melecehkan negaranya sendiri itu. Bahkan tampaknya dia tak menyadari sedikit pun tentang hubungan internasional kita yang cukup mesra dengan negara-negara sahabat. Apakah mereka akan berdiam diri ketika sahabatnya mengalami gangguan sedemikian rupa? Meskipun kepentingan dari negara-negara sahabat itu banyak perbedaannya dengan negara kita, maka atas nama kepentingan masing-masing itulah mereka tentu tak akan tinggal diam.

Kedaulatan negara kita berada di prioritas paling depan, dan meskipun kapasitas persenjataan kita tidak secanggih yang dimiliki China, bukan pada tempatnya Fadli Zon menghitungnya dari sudut kecanggihan persenjataan. Banyak aspek lain yang menjadi kekuatan pertahanan kita, dan pasti semua unsur itu telah lama menjadi pemahaman para pemegang otoritas di bidang pertahanan.

Maka sangat prematur jika Fadli Zon dengan serta merta menunjuk kekuatan militer kita, ketika membandingkan China dengan negaranya sendiri. Dia tampaknya tak terlalu suka membaca sejarah, bayangkan ketika Amerika dengan segenap kekuatannya mengokupansi Vietnam, adakah mereka menguasai negara miskin itu dengan mudah?

Vietnam adalah negara kecil, dan jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan negara kita. Maka ketika kita dilecehkan sedemikian rendahnya oleh pejabat kita sendiri, patutkah kita memberi respek kepada yang bersangkutan? Bayangkan saja, dengan predikat seorang politisi yang memiliki konstituen cukup luas, yang terbersit pertama kali pada benak kita, adalah dukungan terhadap pendapatnya yang super prematur itu.

Tampaknya, Gerindra harus lebih cermat ketika kalangan internal mereka menunjukkan gelagat tak elok, sebagaimana diekspresikan oleh Fadli Zon. Kenapa demikian? Karena secara tidak langsung dia telah memojokkan partainya sendiri dengan cara memposisikannya secara pribadi sebagai oposan, sementara ketika Jokowi menunjuk majikan Fadli Zon sebagai pembantu Presiden, seharusnya dia berbalik arah mendukung tanpa reserve kepada sang Ketum. Namun demikianlah yang selalu terjadi para seorang pribadi oportunis.

LihatTutupKomentar
Loading...