> Kalah Persenjataan, Strategi Iran Membuat Amerika Sulit Menang Perang
Loading...

Kalah Persenjataan, Strategi Iran Membuat Amerika Sulit Menang Perang

Loading...
Loading...

Iran telah bergerak membalas kematian Qasem Suleimani. Puluhan roket ditembakkan pada pangkalan udara militer gabungan AS-Irak pada Rabu (8/1/2020) . Roket ditembakkan Rabu pagi, sebagaimana dilansir Bloomberg dari televisi lokal yang mengutip Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGC).

Keberanian Iran menyerang pasukan Amerika semata-mata bukan karena ekspresi kemarahan saja namun menunjukkan kesiapan mereka untuk menunjukkan kekuatan militernya tidak bisa dianggap seperti negara Timur Tengah lainnya. Bertahun-tahun mereka telah mempersiapkan konfrontasi dengan musuh negara adidaya, yang pasukannya jauh lebih besar dan lebih maju.

Dilansir dari Reuters, negara Teluk itu memiliki lebih dari 500.000 personel aktif, termasuk 125.000 anggota Pengawal Revolusi elitnya, menurut sebuah laporan tahun lalu oleh Institut Internasional untuk Studi Strategis. Tetapi sanksi internasional dan pembatasan impor senjata mempersulit Iran untuk mengembangkan atau membeli persenjataan yang lebih canggih.

Untuk mengimbangi ketidakseimbangan tersebut, Iran telah mengembangkan strategi perang "asimetris" melalui penyediaan rudal balistik, pesawat tak berawak mematikan dan jaringan sekutu milisi di Irak, Suriah, Lebanon dan Yaman. Sebisa mungkin mereka menghindari medan perang tradisional.

Perang asimetris merupakan pertikaian yang terjadi tidak menggunakan senjata fisik melainkan ide-ide untuk menjatuhkan lawan menggunakan strategi-strategi modern. Seorang mantan komandan militer Inggris membeberkan hal ini, bagaimana Iran akan sangat berbahaya dengan serangan asimetris.

"Dari perspektif militer konvensional, mereka akan benar-benar dipukul," katanya. “Militer konvensional mereka sangat, sangat jarang dan cukup tua dan cukup ketinggalan zaman. Mereka menghabiskan semua uang mereka untuk kemampuan serangan asimetris. Dalam hal itu mereka sangat siap. "

Arab Saudi baru-baru ini menyaksikan kerusakan yang dapat disebabkan oleh serangan rudal dan pesawat tak berawak, setelah serangan pada fasilitas minyaknya tahun lalu secara singkat mengurangi produksi 5% dari pasokan minyak mentah global. Riyadh dan Washington menyalahkan Iran atas serangan itu, namun dibantah Teheran, Iran.

Iran telah membangun persediaan rudal balistik terbesar di Timur Tengah. Beberapa merupakan rudal desain "Scud" yang lebih tua dan banyak digunakan, dengan jangkauan setidaknya 750 km (466 mil). Lainnya, rudal produksi No Dong Korea Utara, dimana jangkauannya dapat mencapai 2.000 km, bisa mencapai Israel atau Eropa tenggara, menurut laporan Badan Intelijen Pertahanan AS (DIA) tahun lalu.

Kapasitas militer Iran menghadapi Amerika bukan dengan head to head, tank vs tank atau pesawat tempur vs pesawat tempur, dan lainnya karena mereka akan kalah telak tetapi menggunakan rudal-rudal yang mereka miliki untuk menangkal semua peralatan tersebut. Rudal anti kapal, rudal anti pesawat, rudal lainnya akan menjadi andalan Iran menghadapi berbagai jenis peralatan canggih AS.

"Jika Anda melihat kapal, tank, jet tempur, Iran terlihat sangat lemah. Tetapi jika Anda melihat rudal anti-kapal, rudal balistik, UAV, dan hal-hal seperti itu maka itu terlihat jauh lebih mampu, "kata Jeremy Binnie, editor Timur Tengah dan Afrika untuk Jane's Defense Weekly.

Armada kendaraan udara tak berawak Iran (UAV) dapat digunakan untuk pengawasan atau dipersenjatai dengan bahan peledak, menurut para pakar militer.

"Iran di Teluk Persia tidak benar-benar perlu memiliki kapal besar, tidak harus fregat dan kapal perusak. Kapal cepat, kapal senapan, kapal rudal dapat melakukan pekerjaan itu, ”kata Hossein Aryan, seorang analis militer yang bertugas selama 18 tahun di angkatan laut Iran sebelum dan sesudah revolusi Islam 1979.

Kekuatan Iran yang lainnya adalah dengan bekerja sama dengan kelompok sekutu mereka di luar Iran. Kelompok ini menangani operasi klandestin di luar Iran, bekerja sama dengan pasukan militer dan milisi sekutu di Irak, Suriah dan Libanon.

Itulah mengapa AS tidak sembarangan menyerang negara dengan kemampuan rudal balistik yang kuat seperti Iran dan Korea Utara. Karena kepemilikan rudal balistik bagi suatu negara adalah taring yang ampuh untuk membuat efek getar bagi negara lainnya.

LihatTutupKomentar
Loading...