> Geram Jadi Gubernur Terbodoh Versi Google, Anies Siram Media Ratusan Juta?
Loading...

Geram Jadi Gubernur Terbodoh Versi Google, Anies Siram Media Ratusan Juta?

Loading...
Loading...


Saya tertawa terbahak-bahak saat membaca cuitan dari akun @kurawa tentang Anies.

Dalam cuitannya yang bisa anda baca di gambar atas tentang Anies. @kurawa menuliskan dirinya yang baru dibisikin orang dalam tentang alasan tim gabener menyiram duit ratusan juta ke media online untuk pemberitaan tentang Anies kerja bakti.

Begini kutipannya
"Baru dibisikin info orang dalam, mengapa tim Gabener Nyiram duit ratusan juta ke media online utk berita kerja bakti...

Ternyata dia marah dengan twit kalau ketik di Google : "Gubernur Terbodoh" yang keluar Nama dan Muke dia.

Benarkah tudingan @kurawa bahwa Anies telah membeli media? Tentu perlu pembuktian lebih lanjut. Namun saya tidak akan membahas benar tidaknya hal tersebut.

Namun yang jelas, bila Anies memang benar melakukanya, maka hal ini merupakan preseden buruk bagi dunia jurnalistik di tanah air.

Di sisi lain, mengungkap betapa culasnya manusia yang satu ini, ingin menempuh cara instan untuk memperbaiki citranya di Google. Cara yang salah menurut saya.

Sebenarnya wajar kalau dia marah disebut sebagai gubernur terbodoh nomor satu baik dalam sejarah maupun di dunia versi Google. Harusnya kemarahan itu dijadikan koreksi terhadap dirinya sendiri. Kenapa dia disebut gubernur terbodoh se alam semesta selama ini?

Namun sebelum membahas lebih lanjut, kita perlu mengetahui dulu kerja algoritma Google.

CEO Google, Sundar Pichai pernah menjelaskan bahwa Google menjelajahi miliaran laman setiap pengguna mengetikkan kata kunci.

Google lalu mencocokkan laman tersebut dan memberikan peringkat berdasarkan lebih dari 200 indikasi. Indikasi ini berupa relevansi, popularitas, paling baru, dan cara orang lain menggunakannya.

Jadi, berkaitan yang dialami oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, namanya dihubungkan dengan kata kunci "Gubernur Terbodoh", karena ada banyak artikel-artikel di dunia maya yang menyandingkan namanya dengan kata kunci tersebut.

Akibatnya setiap kali kita mengetik kata kunci gubernur terbodoh, yang selalu muncul adalah nama dan wajah Anies.

Ada begitu banyak alasan kenapa namanya sering disandingkan dengan kata bodoh.

Sebut saja soal kelakuan konyolnya selama menjabat sebagai gubernur, misalnya dengan membolehkan PKL berjualan di trotoar, menutup jalan Jatibaru di Tanah Abang, menyemprot kali item yang berbau busuk dengan parfum dan menutupnya dengan jaring.

Itu semua bisa jadi merupakan tindakan yang bisa dikategorikan bodoh menurut tidak saja bagi masyarakat namun juga netijen.

Yang terbaru adalah ketidakbecusannya menuntaskan normalisasi kali Ciliwung sehingga berakibat banjir besar di awal tahun 2020 ini.

Kejadian ini memancing kekesalan warga masyarakat, tidak jarang umpatan bodoh pun bermunculan baik dalam bentuk tulisan, berita, artikel, opini, komentar atau apapun itu namanya di media online.

Alhasil semuanya membentuk satu kesatuan yang akhirnya dibaca oleh algoritma Google sebagai "Gubernur Terbodoh = Anies Baswedan"

Jadi kalau tidak mau disebut gubernur terbodoh, harusnya Anies bekerja lebih pintar.

Jangan karena kebencian terhadap Jokowi yang pernah memecatnya atau terhadap Ahok yang berprestasi" lantas sengaja bikin ulah. Misalnya sengaja memunculkan ide-ide bodoh hanya supaya dianggap tampil beda atau menunjukkan pembangkangannya.

Ogah melanjutkan normalisasi dengan memunculkan naturalisasi yang celakanya naturalisasi itu pun tidak kunjung dikerjakan. Bikin drainase vertikal yang diyakini mampu menghilangkan banjir namun faktanya Jakarta malah tenggelam. Akhirnya kelihatan bodoh kan?

Sebagai penutup, untuk menulis artikel ini saja saya telah mencantumkan puluhan kata bodoh, hal ini akan semakin memperkokoh posisi Anies sebagai pemegang lisensi terkuat untuk kata gubernur terbodoh ala Google.

Jadi bila ingin menghapus stigma tersebut. Berpikir, berucap dan bertindaklah dengan lebih cerdas dan bijak, agar banyak orang yang menulis puja dan puji untuk Anies, itu cara yang pertama.

Cara kedua, kalau muncul gubernur lain yang dianggap oleh masyarakat, netijen atau penulis, jauh lebih bodoh dari dirinya. Jadi bukan dengan cara membeli media kalau seandainya apa yang dikatakan @kurawa benar.

Dengan demikian stigma gubernur terbodoh sama dengan Anies akan hilang dengan sendirinya. Dan saya berharap sejalan dengan waktu, stigma itu akan hilang, setidaknya untuk............... 100 tahun lagi.

LihatTutupKomentar
Loading...