> Cuman Kerja Bakti, tapi Dibilang 'Gubernur Rasa Presiden'. Ente Waras?
Loading...

Cuman Kerja Bakti, tapi Dibilang 'Gubernur Rasa Presiden'. Ente Waras?

Loading...
Loading...


Ada yang menarik dari aktivitas Wan Anies pada Minggu, eh Ahad pagi (5/1) di salah satu daerah yang terdampak banjir, tepatnya di Kampung Makassar. Sang DKI-1 terlihat sibuk bekerja bakti bersama beberapa petugas kebersihan, juga warga setempat, untuk membersihkan sisa bencana banjir yang melanda Jakarta pada awal 2020 lalu. Apa menariknya? Pengakuan seorang yang mengaku sebagai “relawan 212” mengenai Wan Anies: Good, goodbener! Gubernur DKI rasa presiden!

WHAT? Apakah yang bilang "Cukup waras untuk menilai Wan Anies sebagai Gubernur dengan kualitas seorang Presiden? Kok menyanjungnya kebangetan begitu sih! #aneh

Setelah semua yang Wan Anies perbuat, juga yang tidak diperbuat olehnya, lantas dengan sekali aktivitas kerja bakti saja, elu bilang orang ini sebagai orang yang “Good”, “Bener”, dan “Gubernur rasa presiden? Yang benar saja!


Padahal, perkara membersihkan daerah tertentu setelah dilanda banjir merupakan hal yang biasa, normal, dan bisa dilakukan oleh siapapun. Saya kasih tahu ... di kampung saya ... tak terlalu jauh dari daerah asal Pakde Jokowi, setiap kali kerja bakti akan ada warga dari lintas usia, berbagai profesi, strata sosial, juga dari lintas agama berbaur menjadi satu untuk bergotong-royong.

Menariknya, tak jarang ada anak-anak balita juga ikut keluar sarang, eh keluar rumah mengikuti orangtua atau kakek-neneknya, trus ikut kerja bakti. Tentu saja yang dikerjakan adalah hal-hal yang ringan seperti mencabut rumput, menyapu sebiasanya, trus ikut menikmati hidangan teh hangat dan makanan kecil yang biasanya tersedia selama kerja bakti.

Trus ... apakah bisa dibilang anak kecil yang masih balita tadi sebagai “anak kecil rasa presiden?” Siapapun yang menjawab begitu rasanya bisa disebut: “Kurang waras!” Apa parameternya anak sekecil itu, yang ikutan kerja bakti karena mengekor orangtua atau kakek-neneknya, trus bisa dibilang “rasa presiden?” Bahkan anak presiden sekalipun, hanya karena ikutan nyemplung kali untuk kerja bakti bersama warga setempat, tak bisa langsung dikatakan: “Calon Presiden nih!”

Saya meskipun pekerja kantoran, ketika dahulu sempat terjun dalam pelayanan masyarakat di sekitar Kali Code, sempat ikut kerja sama bareng warga setempat. Ngapain? Mulai dari membersihkan rumah yang belum lama diterjang banjir, gotong royong membersihkan jalan, sampai ikut terjun ke sungai membuat “bendungan sederhana” dari pasir yang dimasukkan ke dalam karung, untuk menahan meluapnya air sungai.

Apakah saya lantas bisa disebut juga: pekerja sosial rasa presiden?

Kalau ada yang bilang begitu ... saya akan tertawa paling awal, juga paling keras. Trus kalau sudah keterlaluan, saya mungkin bisa keceplosan ngomong: “Gak bener nih orang! Omongannya sampah banget, karena asal ngomong!”

Hahaha ... hahaha ...!

Sampai sekarang saya tak habis pikir siapa pencetus ungkapan: “Gubernur Rasa Pesiden!” untuk pertama kalinya. Ini seperti slogan “Ganti Presiden” yang secara resmi gagal total begitu PilPres 2019 berakhir, bahkan dikasih injury-time sampai 31 Desember 2019 sampai pukul 12.00, juga masih belum berhasil juga mewujudkan slogan yang ngawur bin ajaib itu. Meski sedihnya, kok ada juga yang percaya slogan tadi lalu ikut-ikutan berbuat ini dan itu, dengan cara-cara yang tak elegan?

T’rus ungkapan “Gubernur Rasa Presiden” itu maksudnya apa? Wan Anies meskipun posisinya sebagai Gubernur DKI Jakarta, tapi sudah pantas dan mampu jadi Presiden RI begitu? Pantas dan mampu dari Hongkong!

Kinerja sebagai gubernur saja masih kalah jauh sama Bu Risma yang menjadi pemimpin daerah setingkat kotamadya, kok pendukungnya maksa menyamakan level Wan Anies setingkat presiden? Presiden ludruk atau ketoprak yah, maksudnya?

Saran saya ... sudahlah! Sebelum malu bertubi-tubi dan berkepanjangan, sudahilah kebodohan itu. Lebih baik simpan dan “masukkan kotak” tuh slogan yang sama sekali ORA MUTU ... karena faktanya figur pujaan ente sama sekali belum layak untuk disebut Gubernur Rasa Presiden. Wong jadi gubernur yang pantas disebut sebagai “gubernur” saja belum pantas, bahkan kalah sama Wali Kota, lha ini kok terlalu pede disebut oleh pendukungnya sebagai “gubernur rasa presiden”.

Ngimpimu terlalu tinggi. Segeralah bangun dan hadapi kenyataan, t’rus suruh mundur tuh orang sebelum DKI Jakarta semakin ambyaaaarr!

LihatTutupKomentar
Loading...