> Banjir Adalah Sunnatullah Hasil Pilihan Warga Jakarta
Loading...

Banjir Adalah Sunnatullah Hasil Pilihan Warga Jakarta

Loading...
Loading...

Sunnatullah itu jika kamu belajar keras, nilai rapormu akan bagus.

Jika kita tidak boros. Menyisihkan uang buat menabung dan investasi, maka masa depanmu lebih baik. Ketimbang kamu foya-foya menghabiskan uang.

Jika Jakarta berada di dataran rendah dan hujan datang dengan curah tinggi, ada kemungkinan Jakarta banjir. Itu sunnatullah.

Tapi manusia diberikan akal. Diberikan fikiran. Manusia mampu mengubah kondisi. Kota yang jika didiamkan saja akan kebanjiran, bisa diubah menjadi tidak banjir. Belanda adalah bukti nyata. Meski posisinya di bawah permukaan laut, mereka berhasil membuat teknologi dam dan bendungan.

Mereka bisa mengatur jalannya aliran air. Mereka menggunakan otaknya untuk membuat kehidupan warga lebih baik.

Bukan. Mereka gak melawan sunnatullah. Mereka hanya punya otak untuk membuat Amsterdam lebih layak huni.

Sama kayak pesawat terbang. Manusia bukan burung. Gak bisa terbang. Tapi teknologi membuat manusia bisa mengangkasa. Itu bukan melawan sunnatullah. Tapi menciptakan suasana berbasis pengetahuan agar beban berat bisa terangkat dan mengangkasa.

Bagaimana dengan Jakarta? Posisinya juga dataran rendah. Jika didiamkan saja bisa banjir. Tapi bisa. Pasti bisa agar kota ini gak banjir. Manusia dianugerahkan akal.

Gimana caranya? Selokan dan kali dibersihkan. Sampah diangkut. Saluran air dibuat sedemikian bagus.

Bendungan penampung air di Pluit, atau di lokasi lain dikeruk sampahnya. Sodetan banjir kanal timur disambungkan sehingga air bisa terdistribusi.

Sungai-sungai yang menyempit dinormalisasi. Tahu kan maksudnya normalisasi? Besaran sungai yang menyempit diperlebar. Biasanya di pinggiran sungai ada rumah-rumah ilegal. Mau tidak mau mereka harus dipindahkan.

Lalu agar tertata, bantaran itu dirapihkan. Dibeton. Dibuatkan jalur inspeksi. Harus diakui, Ahok dengan serius melakukan hal itu semua. Rumah susun dibangun untuk memindahkan warga di bantaran sungai. Agar mereka tidak kembali lagi membuat hambatan aliran air.

Di jaman itu, hujan yang mengguyur Jakarta bisa diantisipasi sebagian. Dari total sungai 33 km yang harus dinormalisasi, sayangnya saat itu baru dikerjakan 16 km. Belum maksimal. Ahok keburu lengser.

Apalagi ada aliran air dari Bogor yang pasti kelewati Jakarta. Makanya, Jokowi memerintahkan untuk membuat bendungan di Ciawi dan Bogor. Untuk mengatur air limpahan itu. Bendungan itu baru selesai akhir 2021 nanti.

Sialnya, orang yang menggantikan Ahok sok tahu. Dia bicara soal sunnatullah air meresap ke bumi, bukan dibuang ke laut. Ini kata yang membius karena dibungkus istilah agama. Tapi juga terdengar bodoh bagi yang paham.

Normalisasi yang direncanakan matang diubah-ubah dengan slogan naturalisasi. Apa jadinya? Kali-kali dibiarkan begitu saja. Padahal jika mengandalkan hal yang natural. Jakarta itu naturalnya banjir. Sama kayak manusia, naturalnya gak bisa terbang.

Makanya perlu ada rekayasa teknologi. Rekayasa aliran air. Bangkenya, Anies malah tidak mau menyelesaikan pembebasan lahan untuk sodetan sungai. Padahal kementerian PU sudah siap untuk membangunnya.

Orasi dan slogan. Kesombongan yang gak pakai otak. Mau dianggap lebih cerdas dari Ahok. Apa akibatnya? Jakarta tenggelam.

Mobil hanyut. Korban berjatuhan. Rumah rusak. Banjir melukuhlantakan kota. Semua itu harus ditanggung biayanya oleh rakyat. Oleh penduduk Jakarta. Oleh orang yang tinggal di kota yang dikelola oleh seorang Gubernur sengkek.

Jadi secara natural, Jakarta sunnatullahnya memang banjir. Posisinya di dataran rendah. Orang yang punya otak akan menggunakan teknologi untuk mengantisipasinya. Orang yang banyak omong akan sibuk mencari teori-teori basi, soal naturalisasilah, soal sunnatulla air meresap ke tanahlah. Atau soal sompret lainnya.

Kini Jakarta banjir gila-gilaan. Itu adalah sunnatullah. Sunnatullah karena memang gak diantisipasi sejak awal.

Air meresap ke tanah adalah sunnatullah. Air yang mengalir lancar di saluran yang bersih adalah sunnatullah. Kalau salurannya gak dibersihkan, aliran air terhambat dan terjadi banjir juga sunnatullah.

Ketika Jakarta memilih Anies sebagai Gunernur. Banjir besar hanyalah sunnatullah dari pilihan itu.

“Sama kayak orang memilih Rizieq sebagai idola. Sunnatullahnya pasti berangasan dalam beragama, mas,” ujar Abu Kumkum

Orang pintar punya pepatah. Sedia payung sebelum hujan.

Anies punya pepatah, sedia gayung gayung sebelum hujan. Buat nyerokin banjir.

LihatTutupKomentar
Loading...