> Anies Akan Menjadi ‘Sampah Politik’
Loading...

Anies Akan Menjadi ‘Sampah Politik’

Loading...
Loading...



Jakarta sudah menjadi langganan banjir sejak lama. Warga DKI Jakarta di daerah-daerah tertentu sudah biasa menikmati hal tersebut, terutama di daerah pinggir sungai Ciliwung. Lebar sungai yang menyempit menambah parah terjadinya banjir di DKI Jakarta, bukan hanya air yang berasal dari Jakarta, tetapi air kiriman dari luar Jakarta.

Normalisasi menjadi penting untuk menanggulangi banjir kiriman plus air yang berasal dari Jakarta itu sendiri. Bendungan pun tak kalah penting. Pemerintah pusat pun sudah memulai proyek tersebut. Untuk normalisasi sungai, hanya berjalan di masa Gubernur Ahok, sedangkan bendungan terkendala dengan pembebasan lahan yang menjadi tanggung jawab pemprov DKI Jakarta.

Selain lebar sungai, sampah pun menjadi salah satu factor kuat penyebab banjir. Masalah tersebut bisa dicerna dan dilihat oleh orang yang mau berfikir. Untuk Jakarta, pompa-pompa air yang difungsikan untuk mengalirkan ke jalur utama pun sangat berperan untuk memperlancar aliran air, oleh sebab itu, pompa harus siap dan dipastikan berfungsi ketika musim penghujan tiba. Satu pompa tak berjalan dengan baik, maka sekitarnya sudah jelas tergenang air. Oleh sebab itu, jika kawasan yang sudah dilakukan normalisasi tetapi masih banjir sudah dipastikan hal tersebut disebabkan karena sampah atau pompa air yang tak berjalan dengan baik.

Dulu saya selama pernah tinggal di Jakarta memang gak pernah kena banjir karena tempat yang saya tinggali jauh dari titik banjir. Tetapi mantan pacar saya yang sekarang jadi istri, sewaktu kuliah dan kost, di tempatnya merupakan titik banjir. Banjir di zaman Ahok berkurang, kalaupun air menggenang surutnya cepat. Hal itu bisa dirasakannya. Dan mungkin warga Jakarta pun mengalami hal yang sama ketika itu. Namun saat ini, banjir melanda Jakarta cukup besar. Warga Jakarta sudah pasti tau bedanya ketika musim pengujan datang di zaman Ahok dengan zaman Anies. Branding Goodbener untuk Anies dari para buzzer hingga media yang meliput ungkapan satu orang untuk dinaikan tak akan memperbaiki citra seorang Anies, karena lawannya adalah kesaksian para warga Jakarta yang terkena dampak banjir parah di era Anies dilengkapi dengan video dan juga foto-foto dengan gampang viral dalam media sosial.

Seperti yang kita ketahui bersama, Anies yang pandai berkata pun membantah pernyataan disertai data yang disampaikan oleh menteri Basuki terkait banjir yang disebabkan oleh mandeknya normalisasi kali Ciliwiung. Anies pun membantah pernyataan Jokowi yang mengatakan banjir pun ada factor dari sampah. Sebenarnya wajar Anies membantah, karena jika dia tak membantah itu sama saja melempar mukanya sendiri dengan kotoran.

Tetapi yang perlu kita ingat adalah, sepandai apapun orang menyimpan bangkai, aromanya akan tercium juga. Atau sepintar apapun orang berbohong, suatu saat akan terkuak juga, karena untuk menutupi sebuah kebohongan, dibutuhkan kebohongan yang lebih besar dan besar lagi, hingga akhirnya kebohongan tersebut menjadi tak bisa ditutupi karena terlalu mencolok, yang ada kebohongan tersebut akan menjadi sebuah kekonyolan dimata orang-orang.

Anies bisa saja melemparkan kesalahan kepada orang lain untuk menjaga nama baiknya, tetapi makin lama akan banyak yang melawan. Contohnya Bupati Bogor pun merespon Anies dengan menjelaskan bahwa dirinya bukanlah Avatar yang bisa mengendalikan air. Hal itu berkaitan dengan Anies yang seperti menyalahkan daerah lain sebagai penyebab banjir Jakarta.

Jika Anies masih berpendapat mengolah kata-kata masih bisa diandalkan setelah dia menjabat, hal tersebut adalah salah besar. Jika dulu orang bisa menaruh harapan dan percaya terhadap kata-kata indah Anies, tetapi untuk orang yang sudah menjabat, kinerja dan hasil yang akan dilihat oleh orang yang sudah dipimpinnya.

Anies seharusnya sadar, bahwa dia itu bukanlah petinggi parpol yang memiliki kekuatan politik, jika dia ingin tetap berkarir dalam dunia politik, kinerjalah yang harus ditunjukkan sebagai daya tariknya dalam meraih simpati masyarakat. Anies seharusnya melakukan pencitraan dengan kerja supaya hasilnya dapat dipamerkan.

Sepandai apapun Anies saat ini dalam mengolah kata, jika Anies tak melakukan apa-apa ketika memimpin Jakarta, maka ke depannya Anies berpotensi menjadi ‘sampah politik’ yang akan dibuang karena dianggap tak berguna.

LihatTutupKomentar
Loading...